Tuesday, 16 August 2011

Unforgotten

Sejujurnya, ideku sudah lenyap dimakan serangkaian peristiwa lampau
Bahkan untuk mengukir setiap objek di atas benda maya pun sudah tak terpikirkan lagi
Sepersekian waktu telah membuatku jengah
Apakah ini pantas untuk diteruskan atau tidak, patutlah dipertanyakan
Sisa-sisa kisah di sana menjadi bumerang bagi kelanjutan serial ini
Membuat sekujur tubuh mati akan sistem saraf
Dengan dangkalnya penegasan alur, episode-episode selanjutnya bergulir tanpa makna
Seperti bunga matahari mengikuti tuannya, ia akan selalu terbelenggu dalam masa persembunyiannya
Mencoba menantang langit, namun tetaplah nihil hasilnya
Lalu, berkamuflase dalam kepura-puraan dan membeku terhadap apa yang terjadi
Membisu mungkin tindakan yang tepat pada kesempatan ini
Tapi lajur coretan kisah sudah membelok seakan pemberontakan menyusul di kemudian hari
Jeritan hati mulai terngiang di kedua rumah siput, bergumul dan berjibaku pada setumpuk kilasan memori
Kemudian merujuk di media penyimpanan, mengabadikan berbagai goresan dan memberikan nuansa tersendiri bagi sang pemilik
Menoleh ke belakang, dan seraya berkata : "Memang benar, apa pun yang terjadi di masa lalu tak akan pernah berubah atau pun hanya sekadar ingin memperbaikinya, tapi terima kasih sudah menyediakan kesempatan itu."
Atas perizinanMu, aku kembali meneruskan derap langkah kaki ini
Bergerak bersama segelintir kerikil dan debu yang berdebaran
Diam sesaat, siapakah yang terlebih dahulu mencapai garis ending itu?
Tolong aku Tuhan untuk menemukan jalanku


Tetap berserah dan berlutut di hadapanMu,
Dengan cinta,
anakMu Chacan :D

3 comments:

Sonya Suci Ramadhani said...

canty, aku paling suka puisi kayak gini, puisi yang lebih mirip cerita (apa namanya yaa?) :D

Canty Gracella Lamandasa's blog said...

@onya: maaf, balada bukan nya? maksud kamu, makasih ya udah komen hehe :)

Sonya Suci Ramadhani said...

iya iya balada.. hahaha.
ini lebih seru dari cerpen :D